Strategi Optimalisasi Bank Syariah

oleh

Islam sebagai agama rahmatan lil’alamin, telah mengatur seluruh aspek kehidupan manusia, termasuk dasar hukumnya. Baik tentang peribadatan sampai dengan perekonomian atau yang biasa disebut muamalah. Dalam pembangunan ekonomi suatu negara, sektor perbankan merupakan salah satu pilar yang mempunyai peran penting, mengingat bahwa bank memiliki peran sebagai lembaga perantara keuangan antara masyarakat yang kelebihan dana dengan masyarakat yang kekurangan dana.

Berdasarkan prinsip yang dianutnya, terdapat dua jenis perbankan yang berkembang dewasa ini, yakni bank konvensional dan bank syariah. Pada dasarnya, fungsi kedua bank tersebut dalam menjalankan kegiatannya adalah  sama. Sebagai  lembaga  keuangan intermediasi (intermediary financial institution), kedua bank ini sama-sama mengumpulkan dana dari masyarakat dan kemudian menyalurkan  kembali  dana-dana yang terkumpul tersebut kepada masyarakat dalam bentuk  pembiayaan. Namun, di samping itu terdapat hal prinsip yang membedakan keduanya. Bank syariah dalam menjalankan kegiatan usahanya berdasarkan pada prinsip bagi untung dan rugi (profit and loss sharing principle) serta tidak memberikan bunga (interest free). Adapun bank konvensional dalam menjalankan kegiatan usahanya berdasarkan pada bunga (interest).

Dengan melihat kegiatan usaha yang berdasarkan prinsip syariah, tidak jarang timbul persepsi masyarakat bahwa perbankan syariah hanya diperuntukkan oleh orang-orang yang beragama Islam saja, sedangkan agama lain (non-muslim) tidak bisa bertransaksi di dalamnya. Hal ini tentunya mempengaruhi pangsa pasar (market share) bank syariah, khsuusnya di Indonesia. Menurut data OJK, pada tahun ini market share pasar bank syariah masih berkisar 6%. Sebuah fakta yang ironis mengingat jumlah penduduk Indonesia sekitar 220 juta jiwa dengan 80% lebih beragama Islam. Angka tersebut tentunya masih terbilang rendah dan belum cukup signifikan jika dibandingkan dengan potensi penduduk Indonesia tersebut.

Untuk mengatasi polemik tersebut, menurut Suhendi (2008), diperlukan strategi yang baik sehingga nantinya dapat meningkatkan minat masyarakat serta market share pada perbankan syariah. Strategi tersebut dapat dimulai dari teknik pemasaran, sosialisasi dan edukasi, serta pembenahan aspek price dan service pada perbankan syariah.

Pada saat ini, cara pemasaran bank syariah masih kental dengan symbol-simbol keislaman serta jargon-jargon yang terlalu ‘mencolok’ di mata dan telinga masyarakat non-muslim. Tentunya hal ini dapat mengakibatkan sempitnya pemikiran masyarakat terhadap perbankan syariah. Oleh karena itu, apabila ingin memperluas pasar, maka perbankan syariah harus mulai menggarap market floating. Ini adalah segmen yang mengharapkan layanan yang unggul dengan produk yang kompetitif. Pasar ini lebih mengutamakan aksesabilitas dan kenyamanan bertransaksi disertai dengan keragaman jenis traksaksi.

Sebagaimana yang diutarakan oleh pakar pemasaran Hermawan Kartajaya bahwa perbankan syariah harus berani keluar dari jargon-jargon agama. Ini adalah sistem ekonomi, bukan agama. Jika terlalu sarat dengan jargon agama, biasanya susah untuk membesar. Padahal, sistem ekonomi syariah yang ditawarkan oleh agama Islam tidak hanya diperuntukkan bagi kaumnya, melainkan berlaku bagi bagi seluruh umat. Untuk yang non-Muslim, harus dijelaskan bahwa agama Islama dalah sebagai rahmatan lil ’alamin, yang berarti rahmat untuk seluruh umat manusia dan perbankan syariah merupakan sistem perekonomian modern, yang sebenarnya cocok untuk investasi baru.

Kemudian, strategi lain yang dapat dilakukan oleh perbankan syariah ialah memprioritaskan sosialisasi dan edukasi ke masyarakat luas. Dengan adanya hal tersebut, diharapkan dapat menjadi upaya pendekatan untuk menggarap pasar yang lebih luas. Caranya dapat ditempuh melalui peningkatan kualitas layanan dengan selalu mengupayakan kepuasan konsumen. Selain itu, perbankan syariah harus senantiasa menciptakan produk yang inovatif, menarik dan dibutuhkkan masyarakat. Penggunaan istilah berbau Arab nampaknya tidak esensial lagi.

Sebagai contoh, Overseas Chinese Banking Corporation di Malaysia, ketika meluncurkan produk syariah tidak menggunakan bahasa Arab. Mereka hanya menambahkan huruf ”i” di depan produknya, yang berarti Islamic. Adapun dalam bahasa inggris berarti ”aku”, my product. Dengan cara ini mereka berhasil memasarkan produknya ke kalangan non-muslim. Satu hal yang harus digarisbawahi, menamakan produk syariah dengan bahasa Arab tidak menjadi masalah selama ada penjelasannya.

Selanjutnya, untuk mampu menjadi sektor yang rahmatan lil ‘alamin, perbankan syariah harus memperbaiki aspek harga (price) serta layanan (service). Di samping itu perbankan syariah harus menerapkan integrated marketing approach. Artinya pertama, perbankan syariah harus memiliki strategi yang jelas. Mereka harus dapat memilih segmen pasar, kemudian memfokuskan target di pasar tertentu. Selanjutnya setiap bank harus memiliki positioning yang sesuai dengan segmentasi dan keahlian di industrinya masing-masing, misalnya di industri perumahan, koperasi, usaha kecil dan sebagainya. Kedua, perbankan syariah harus memiliki diferensiasi produk serta marketing mix pada masing-masing produk. Proses penjualannya pun harus terintegrasi, melalui cabang, mitra atau dialihdayakan (outsourcing).

Terakhir, di samping memperbaiki aspek pemasaran, sosialisasi, harga, serta produk dan layanan, perbankan syariah harus lebih hati-hati dalam penyaluran dana. Bagaimanapun juga, apabila kelak di kemudian hari perbankan syariah dianggap gagal dan tidak mampu merubah paradigma lama menjadi bank yang rahmatan lil ‘alamin, jangan sampai agama Islam menjadi sasaran utama sehingga kredibiitas agama Islam menjadi turun. Oleh karena itu, sangat dibutuhkan strategi yang jelas, matang serta komprehensif untuk menjadikan perbankan syariah sebagai rahmatan lil ‘alamin yang besar kebermanfaatannya serta dapat dirasakan oleh masyarakat luas.

 

*Mariam Kamila, STEI SEBI

Referensi
Suhendi, Chrisna. “Kritik untuk Bank Syariah (antara Harapan, Kenyataan dan Paradigma Rahmatan Lil Alamin).” Fokus Ekonomi, vol. 7, no. 1, Apr. 2008.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.