Menjaga Kesehatan Mental di Era Pandemi Covid-19

oleh

MAJALAH JAKARTA – Pandemi Covid-19 telah menimbulkan dampak yang luas bagi indonesia dari sisi ekonomi, sosial, hingga personal. Selain berbahaya buat kesehatan fisik, wabah yang telah berlangsung lebih dari setahun ini sudah mengancam kesehatan mental. Orang-orang terpaksa menghentikan atau mengurangi aktivitasnya di luar rumah, bahkan harus mengisolasi diri ketika terjangkit virus corona. Karena itu, kondisi mental memerlukan perhatian ekstra. Penting bagi kita untuk menjaga kesehatan mental.

Sejak Covid-19 merebak pada awal 2020, kesehatan mental sudah menjadi kekhawatiran banyak kalangan di bidang kesehatan. Banyak pasien Covid-19 menunjukkan gejala depresif, kecemasan, dan stres pasca-trauma, baik yang menjalani isolasi di rumah sakit maupun di rumah.

Sejumlah riset kesehatan mental Covid-19 menemukan pikiran negatif dan pengalaman buruk berkaitan dengan isolasi dalam jangka waktu lama. Manusia pada dasarnya adalah makhluk sosial sehingga membutuhkan sosialisasi. Perasaan sendiri atau terisolasi bisa menambah tekanan mental pasien.

Bukan hanya pasien positif Covid-19, masyarakat pada umumnya  juga menghadapi ancaman kesehatan mental  karena adanya pembatasan sosial yang bertujuan menekan angka penularan virus corona. Situasi yang serba membatasi gerak sehari-hari dapat menimbulkan perasaan tertekan atau stres.

Awalnya, orang akan merasa bosan ketika harus banyak berdiam diri di rumah. Lama-kelamaan, kebosanan itu bisa berkembang menjadi depresi dan gangguan kecemasan. Terlebih bila ada pemicu seperti terkena pemutusan hubungan kerja atau usahanya terkena dampak pandemi. Untuk itu, pemerintah memiliki gugus tugas kesehatan mental Covid-19 yang bertugas membantu masyarakat yang rentan atau telah mengalami gangguan mental selama pandemi.

Siapa saja yang Berpotensi Mengalami Masalah Mental Saat Pandemi Covid-19?

Orang yang paling berpotensi mengalami gangguan kesehatan mental Covid-19 adalah mereka yang sebelumnya sudah berisiko tinggi bila mengalami isolasi. Menurut penelitian dari Johns Hopkins University, Amerika Serikat, orang-orang yang sebelum pandemi sudah memiliki lingkaran sosial yang terbatas lebih rentan terhadap masalah psikis. Sebab, jumlah teman atau keluarga yang bisa diajak berkomunikasi saat pandemi lebih terbatas.

Kesepian dan isolasi sosial juga meningkatkan risiko depresi dan gangguan kecemasan pada anak-anak dan remaja. Selagi sekolah masih menyelenggarakan pembelajaran jarak jauh, anak dan remaja harus lebih mendapat perhatian terkait dengan kondisi mental mereka. Remaja dan orang dewasa muda berusia 18-24 tahun diketahui banyak merasa kesepian pada masa pembatasan sosial. Padahal usia itu adalah masanya mereka mengembangkan jati diri lewat lingkungan pertemanan.

Risiko kesehatan mental Covid-19 pada orang dewasa dan lanjut usia cenderung lebih kecil karena kebutuhan untuk bersosialisasi pun lebih sedikit. Namun, berdasarkan beberapa penelitian, ada sejumlah faktor yang bisa meningkatkan risiko itu, antara lain:

Berjenis kelamin perempuan karena lebih rentan terhadap stres serta gangguan stres pasca-trauma (PTSD)Berusia produktif dan banyak menerima informasi dari media sosial atau media massa yang bisa menambah tekananBerpendidikan tinggi karena lebih sadar akan pentingnya kesehatan sehingga lebih mudah terserang stres lantaran terlalu memikirkan ancaman kesehatanMasih harus bekerja saat pandemi karena lebih khawatir tertular Covid-19, terutama bila menggunakan transportasi umumPendapatan berkurang atau kehilangan pekerjaan karena pandemiTinggal di daerah dengan tingkat penularan tinggi atau banyak kenalan atau anggota keluarganya yang positif Covid-19

Tanda-tanda Masalah Kesehatan Mental di Masa Pandemi
Tanda adanya masalah kesehatan mental tidak sama pada setiap orang. Namun ada beberapa kecenderungan gejala yang serupa berdasarkan kategori usia.

Anak dan remaja
Mudah marahSulit dibujuk agar menurutMudah menangisKerap terbangun saat tidur pada malam hariMerasa kesepianRagu untuk mengungkapkan sesuatuSering memukul, menggigit, atau melakukan tindakan keras lainKerap terlibat pertengkaran dengan teman atau keluargaAgresifSuasana hati mudah berubahTidak lagi menggemari kegiatan yang sebelumnya disukaiHilang selera makanSulit berkonsentrasiPenurunan nilai akademik

Orang dewasa dan usia lanjut
Sering melamunTidak nafsu makan, bahkan bisa tidak makan seharianKurang berminat berkomunikasi dengan orang lain via onlineBingung melakukan aktivitas di rumahSulit tidurTak dapat berpikir jernihLebih mudah berbuat cerobohAda pikiran untuk bunuh diri.Para pakar kesehatan sepakat bahwa stres adalah sumber penyakit. Ketika seseorang mengalami stres, bisa muncul banyak masalah kesehatan, termasuk kesehatan mental. Covid-19 pun berpotensi berkembang lebih parah saat pasien stres. Karena itu, masyarakat diimbau tetap berpikir positif dan bergembira di masa pandemi ini.

Salah satu alasannya adalah tubuh akan memproduksi hormon yang bisa menguatkan imun saat muncul perasaan senang. Misalnya dopamin, serotonin, relaksin, dan oksitosin. Hormon ini bisa merangsang tubuh memproduksi sel imun lebih banyak. Menurut penelitian, ketika orang tertawa lima menit pun ada peningkatan jumlah sel darah putih yang mampu melenyapkan pemicu penyakit yang masuk ke tubuh.

Tips Betah dan Bahagia di Rumah Selama PPKM
Pemerintah telah menetapkan aturan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) untuk mencegah penularan Covid-19. Tak bisa dipungkiri, PPKM juga bisa menjadi faktor risiko kesehatan mental Covid-19 bagi sebagian masyarakat. Untuk mengantisipasinya, coba tips betah dan bahagia di rumah selama PPKM berikut ini:

1. Tetap berkomunikasi
Berkat Internet, kita masih bisa bercengkerama dengan kawan-kawan lewat telepon atau video call. Manfaatkan teknologi ini untuk tetap menjaga komunikasi dengan orang lain, termasuk mencurahkan isi hati yang menjadi beban.

2. Cari hiburan online
Hiburan pun bisa dicari di Internet. Kita bisa menikmati konser penyanyi atau band favorit, juga menonton film komedi yang memancing kita untuk tertawa dan bahagia.

3. Istirahat cukup
Tubuh harus cukup  beristirahat, bila fisik sehat, kesehatan mental turut terjaga.

4. Bangun pikiran positif
Pikiran positif bisa terbangun dari banyak hal. Relaksasi, Yoga atau meditasi bisa menjadi salah satu cara. Bila perlu, konsultasi dengan psikolog atau psikiater  untuk mendapatkan nasihat yang positif untuk mencegah masalah kesehatan mental di era pandemi Covid-19.

Fadiyah misbahudina arliami