Instrumen Pasar Modal Syariah dalam Membentu Pemulihan Ekonomi di Era Pandemi

oleh

Oleh: Sainah, mahasiswi STEI SEBI.

Dampak covid-19 sangat terasa ke semua instrumen pasar modal. akan tetapi, instrumen syariah lebih kebal pada pandemi saat ini. Kapitalisasi pasar modal syariah sejauh tahun ini tercatat -22,39 persen, sementara konvensional sebesar -23,55 persen, kemudian kinerja pasar saham syariah tercatat -16,33 persen dan saham konvensional jatuh lebih dalam sebesar -20,60 persen. Hal ini membuktikan bahwa instrumen pasar modal syariah lebih kebal dalam menghadapi dan memulihkan dampak dari perekonomian di negara Indonesia saat pandemi covid-19 ini.

Instrumen pasar modal pada dasarnya adalah surat-surat berharga (Efek) yang sudah global di perjualbelikan melalui pasar modal. Biasanya, instrumen ini memiliki sifat efek berjangka panjang Yang di perdagangkan dalam pasar modal (Bursa efek).

Sedangkan pasar modal syariah adalah yang memperjual belikan efek syariah dengan akad, pengelolahan perusahan, dan cara penerbitannya memenuhi prinsip-prinsip syariah yang di dasari dengan ajaran islam dan telah ditetapkan oleh DSN MUI dalam bentuk fatwa.

Adapun instrumen yang digunakan adalah sesuai dengan prinsip-prinsip syariah dan efek syariah yang dapat diperjual belikan menurut fatwa DSN-MUI No 40/ DSN-MUI/X/2003 adalah sebagai berikut:

  • Saham syariah merupakan sertifikat yang menunjukan bukti kepemilikan suatu perusahan yang telah di terbitkan oleh emiten yang mempunyai kegiatan usaha dan cara pengelolahannya tidak bertentangan dengan prinsip syariah yang sudah di tetapkan.
  • Sukuk (Obligasi syariah) adalah surat berharga dalam jangka panjang dengan berdasarkan prinsip yang telah dikeluarkan oleh emiten untuk membayar pendapatan kepada pihak pemegang obligasi syariah yang berupa bagihasil dan membayar dana obligasi ketika sudah jatuh tempo.
  • Reksadana syariah merupakan badan yang beroperasi dalam bentuk akad antara pemodal sebagai pemilik harta dengan manajer investasi. Begitupula pengelolahan dana investasi maupun antar manajer dengan pengguna investasi sesuai dengan ketentuan dan prinsip syariah
  • Efek Beragun Aset Syariah merupakan efek yang telah di terbitkan oleh Kontrak Investasi Kolektif EBA syariah yang mempunyai portofolio terdiri dari Aset keuangan berupa tagihan yang timbul dari surat berharga komersial, efek bersifat investasi yang dijamin oleh pemerintah, tagihan yang timbul dikemudian hari, jual beli pemilikan aset fisik oleh lembaga keuangan, sarana peningkatan investasi/arus kas, serta aset keuangan setara, yang sudah di tentukan dengan prinsip-prinsip syariah.
  • Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu (Rights Issue) merupakan produk turunan saham (Derivatif) yang dinilai sesuai dengan kriteria DSN adalah produk Rights (HMETD) produk yang bersifat hak dan melekat. Mekanisme HMETD ini dipandang lebih menguntungkan dibandingkan harus meminjam ke bank karena dana yang diperoleh lebih murah dan tak ada biaya tambahan, provisi, dan masalah administrasi bank lainya dan yang di pasok oleh pemegang sahamnya sendiri.
  • Warrant syariah berdasarkan fatwa DSN MUI Nomor 66/DSN-MUI/III/2008 tentang warrant syariah, pengalihan saham dengan imbalan (Warrant), seorang pemegang saham dibolehkan untuk mengalihkan kepemilikan sahamnya kepada orang lain dengan mendapatkan imbalan. Mekanisme warrent bersifat opsional dimana warrant merupakan hak untuk membeli sebuah saham pada harga yang telah ditetapkan dengan waktu yang telah ditentukan pula.

Dengan penjelasan diatas bisa kita lihat bahwa instrumen pasar modal syariah akan membuat bertambahnya investor lebih memilih mengalihkan dana investasinya dari yang beresiko ke investasi yang lebih aman. Oleh karena itu, saham syariah terus tumbuh di tengah pandemi covid-19. Ada 46 IPO saham baru, 35 emiten dan itu merupakan saham syariah. Kemudian total saham yang tercatat mencapai senilai 709 dan 451 tergolong efek syariah. Lalu di tahun ini, pada Agustus roadmap pasar modal syariah periode 2020-2024 dimana roadmap mengusung strategi dan Bursa Efek Indonesia membentuk 5 strategis yaitu pertama; literasi dan inklusi tujuannya untuk memperkuat basis investor syariah. Kedua; pengembangan produk, efek dan instrumen syariah , memperluas bauran produk. Ketiga; pengembangan dan melengkapi infrastruktur dalam sistem termasuk fatwa MUI mengatur seluruh mekanisme. Keempat; penguatan sinergi dan Kelima; pengembangan teknologi, edukasi dan jadi sarana langsung untuk investasi syariah. []

Referensi
DR.Andri Soemitra, M.A, Bank & Lembaga Keuangan Syariah
https://student-activity.Binus-ac.id.
https://www.cnbindonesia.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.