Faktor-faktor Penyebab Anak Putus Sekolah Selama Pandemi

oleh

MAJALAH JAKARTA – Virus Corona masih menyebar dan menginfeksi banyak orang di seluruh dunia, yang mana hal ini terjadi karena adanya masyarakat yang tidak mengikuti aturan pemerintah untuk vaksin, mematuhi protokol kesehatan dan tetap di rumah saja jika tidak ada keperluan yang benar-benar mendesak.

Pandemi Covid-19 di Indonesia sendiri terjadi sejak Maret 2020, tersebarnya virus ini terjadi begitu cepat sehingga pemerintah mengambil tindakan untuk membatasi kegiatan yang dapat menularkan virus, para murid pun terpaksa melakukan sistem pembelajaran jarak jauh. Pembelajaran yang dilakukan secara daring membuat banyaknya murid sekolah yang mengalami beragam kesulitan dan kendala sehingga mulai banyak juga yang memutuskan untuk tidak melanjutkan sekolahnya.

Pada akhirnya jumlah anak yang putus selama pandemi lebih tinggi dibanding sebelum datangnya Covid-19. Menurut laporan, UNICEF menungkapkan bahwa “Setidaknya ada sepertiga anak di dunia atau 463 juta anak yang mengalami kesulitan mengakses pembelajaran jarak jauh setelah kegiatan di sekolah dihentikan akibat Covid-19.”

“Pembelajaran jarak jauh tidak terjadi bagi setidaknya 463 juta anak yang sekolahnya ditutup akibat COVID-19” ujar Henrietta Fore, Direktur Eksekutif UNICEF, Jum’at (27/08/2020).

Berikut ini beberapa faktor yang menyebabkan anak putus sekolah:

⦁ Kondisi ekonomi

Perekonomian masyarakat Indonesia menjadi tidak stabil semenjak pandemi. Sejak sistem Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) diterapkan ada banyak permasalahan-permasalahan sosial yang bermunculan, seperti karyawan yang terkena PHK, perusahaan yang mengalami kebangkrutan, usaha-usaha masyarakat yang terpaksa tutup, penutupan tempat wisata, dan lain sebagainya. Hal tersebut terus berlangsung di tengah masyarakat sehingga berpengaruh terhadap keluarga, yang mana juga berpengaruh pada anak.

Hal ini menjadi faktor penyebab anak putus sekolah karena orang tuanya tidak sanggup untuk membiayai sekolah dan keperluannya. Anak yang sudah cukup dewasa pun akhirnya memutuskan untuk menikah atau bekerja agar meringankan dan membantu kondisi ekonomi keluarga.

⦁ Fasilitas belajar yang kurang mendukung

Sistem pembelajaran daring mengharuskan murid memakai gawai yang memadai seperti laptop, ponsel, kuota internet, atau bahkan listrik, tidak semua anak memiliki kemampuan untuk membeli dan menggunakan gawai untuk pembelajaran, juga kondisi rumah yang jarang ada jaringan internet membuat anak malas dan bingung sehingga tak jarang ini juga menjadi salah satu alasan anak berakhir memutuskan untuk putus sekolah.

⦁ Minat belajar menurun

Pertemuan antara murid selama pandemi hanya sebatas melalui akses digital saja sehingga pergaulan, motivasi perkembangan dan sosialisasi anak terhambat yang juga berpengaruh kepada minat belajar anak.

Kita semua mengalami hambatan dalam bersosialisasi ketika pandemi, begitu pula dengan anak yang dilarang untuk keluar rumah dan melakukan pembelajaran secara daring. Belajar secara daring membuat semangat anak menurun karena tidak bisa bertemu teman-teman untuk bermain, tidak bisa belajar bersama, yang mana salah satu faktor anak semangat belajar karena adanya teman. Hal tersebut juga berpengaruh terhadap mental anak, karena hambatan bersosialisasi anak-anak menjadi bosan, malas, dan bahkan kurang mengerti apa yang sudah diajarkan guru.

⦁ Kecanduan game online

Bahayanya anak yang memainkan ponsel tanpa diawasi dan dibatasi oleh orang tua atau wali juga menjadi salah satu faktor penyebab anak putus sekolah.

Dilansir dari situs berita Detik.com “Alasan anak putus sekolah lainnya adalah peserta didik mengalami kecanduan game online. Saat pengawasan di kota Cimahi, KPAI mendapatkan data ada 2 anak kelas 7 SMP yang berhenti sekolah karena kecanduan game online,

Bahkan, satu di antaranya berhenti sementara atau cuti selama 1 tahun untuk proses pemulihan secara psikologi. Kisah dari para guru di beberapa daerah juga menunjukkan fakta yang mengejutkan, bahwa anak-anak yang pagi hari tidak muncul di Pembelajaran Jarak Jauh ternyata masih tidur karena main game online hingga menjelang Subuh.” papar Retno, Rabu (24/3/2021).

Ditulis oleh Nur Aisah, Mahasiswi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta