Audit Syariah Sebagai Alat Memastikan Kepatuhan Syariah

oleh

Seiring dengan perkembangan Bank syariah di Indonesia yang semakin pesat, Bank Indonesia (BI) telah berusaha untuk mendorong tumbuhnya bank syariah yang kuat secara keuangan dan selalu berpedoman kepada ketentuan-ketentua syariah.

Kepatuhan syariah dalam bank syariah adalah penerapan prinsip-prinsip islam, syariah dan kepatuhan syariah merupakan integritas dan kredibilitas bank syariah. Pengawasan terhadap kepatuhan syariah dijalankan oleh lembaga pengawas yang anggotanya yang mempunyai kompetensi tertentu. Kepatuhan syariah dianggap sebagai tulang punggung industri perbankan syariah islam. Selain komite syariah sebagai mekanisme pemerintah perusahaan di bank syariah yang berperan dalam mengawasi produk dan layanan agar sesuai dengan syariah, audit syariah dan tinjauan syariah berperan secara bersamaan untuk mencapai tujuan yang sama. Pembentukan organ Syariah ini terutama karena memastikan lembaga keuangan Islam, termasuk bank syariah, memenuhi persyaratan Syariah.

Dalam tinjauan Syariah “mengacu pada fungsi yang melakukan penilaian rutin pada kepatuhan operasi, bisnis, urusan, dan aktivitas lembaga keuangan islam dengan persyaratan Syariah.” Minimal, fungsi tinjauan syariah harus mengidentifikasi, menilai, dan memantau kepatuhan operasi bisnis dan kegiatan lembaga keuangan islam dengan Syariah. Tim harus melaporkan kepada Dewan Direksi ,komite syariah dan manajemen senior secara teratur tentang masalah dan temuan tidak patuh terhadap syariah serta perkembangan terbaru dalam persyaratan hukum dan peraturan di bidang keuangan Islam.

Sementara itu, audit Syariah mengacu pada “suatu fungsi yang memberikan penilaian independen terhadap kualitas dan efektivitas pengendalian internal lembaga keuangan, sistem manajemen risiko, proses tata kelola serta kepatuhan keseluruhan atas operasi, bisnis, urusan, dan kegiatan lembaga keuangan islam dengan Syariah . Menurut tata kelola syariah, fungsi audit syariah setidaknya harus menetapkan metodologi audit untuk menilai profil risiko, menghasilkan rencana audit, menetapkan program audit yang terdokumentasi dan mengkomunikasikan hasilnya kepada Direksi dan komite syariah melalui laporan audit.

AAOIFI, melalui GSIFI No 2, menjelaskan bahwa tinjauan syariah memainkan peran penting dalam memastikan semua aktivitas di bank syariah mematuhi aturan dan ketentuan syariah seperti yang disarankan dalam fatwa, peraturan, dan pedoman yang dikeluarkan oleh Dewan Pengawas Syariah (DPS) ( AAOIFI, 2015). Menurut standar ini, tinjauan Syariah yang efektif akan mempertimbangkan dan bekerja sama dengan penasihat seperti auditor eksternal dan harus memberikan laporan secara bersamaan kepada komite syariah dan Manajemen. Fungsi tinjauan Syariah sangat penting untuk menjelaskan secara memadai praktik tata kelola Syariah, untuk membangun lingkungan Syariah yang komprehensif dalam operasi dan aktivitas bisnis mereka, lembaga keuangan islam diharapkan untuk menguraikan dan menjalankan fungsi departemen tinjauan syariah biasanya bertindak sebagai titik rujukan bagi departemen audit internal untuk mengkonfirmasi dan mengklarifikasi masalah Syariah.

Petugas tinjauan syariah wajib memeriksa alur operasi dan menyelidiki kejadian tidak kepatuhan syariah. Petugas tinjauan syariah akan mengunjungi semua cabang dan divisi dan melakukan pemeriksaan yang relevan. Jika fungsi tinjauan Syariah menemukan insiden di lembaga keuangan islam, mereka akan memberikan umpan balik dan meminta cabang atau departemen terkait untuk memperbaiki ketidakpatuhan tersebut. Namun, ini lebih mengarah pada sifat konsultatif internal daripada temuan audit, yang lebih mengarah pada menegur atau menghukum ketidakpatuhan.

Secara umum, tinjauan syariah telah digunakan oleh lembaga keuangan islam untuk memastikan kepatuhan syariah. Namun, menurutnya proses tinjauan syariah tidak cukup karena cakupannya yang terbatas. Karena itu, disarankan audit Syariah sebagai alat yang lebih tepat untuk memastikan kepatuhan Syariah. Ini mencakup cakupan pemeriksaan yang lebih luas, termasuk teknologi yang mendukung operasi, proses operasional, dan orang-orang yang terlibat di area risiko kritis.

Oleh : Faridhah Aulia (Mahasiswa STEI SEBI)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.